Minggu, 02 November 2014

Pentingnya Bedah Naskah dalam Sebuah Proses Pementasan

Dalam proses sebuah pementasan teater diperlukan beberapa tahap persiapan. Bedah naskah merupakan kegiatan yang harus dilakukan setelah terjadi kesepakatan atas naskah drama yang hendak dipentaskan. Hal ini penting sekali agar segenap kerabat kerja pementasan memahami benar-benar segala sesuatu yang terdapat di dalam naskah drama, baik yang tersurat maupun yang tersirat.

Kata “bedah” di sini lebih mengacu pada pengertian apresiasi, pengkajian, pembahasan, maupun penelaahan. Adapun kata “naskah” dalam pembicaraan ini lebih mengacu pada naskah drama atau naskah lakon, yang merupakan salah satu jenis karya sastra. Karya ini ditulis dalam bentuk dialog yang kebanyakan berisi fenomena kehidupan manusia dengan segala konfliknya. Dengan demikian, “bedah naskah” dapat didefinisikan sebagai kegiatan mengapresiasi, mengkaji, membahas, atau menelaah segala unsur yang terdapat dalam naskah drama.

Seluruh kerabat pementasan melaksanakan kegiatan ini secara bersama-sama dengan dipandu oleh seorang sutradara. Dengan “membedah naskah” akan diperoleh gambaran mengenai kemungkinan-kemungkinan proses pementasannya. Setelah menempuh kegiatan ini diharapkan pada saat proses latihan dan kegiatan puncaknya berupa pementasan, para kerabat pementasan tidak mengalami kesulitan yang berarti.

Dalam kegiatan bedah naskah, ada beberapa kegiatan yang dapat dilaksanakan oleh segenap kerabat pementasan selaku penafsir naskah, antara lain:

  1. Mencari nada dasar naskah; apakah tragedi, komedi, tragikomedi, drama tradisi, absurd, opera, dan sebagainya.
  2. Mencari kemungkinan apakah naskah tersebut dapat dipentaskan tanpa mengalami kesulitan.
  3. Menentukan kesesuaian antara tingkat kesulitan naskah dengan kemampuan kelompok, baik kualitas pemain, kelengkapan sarana dan prasarana, serta daya dukung lain yang dimiliki kelompok.
  4. Menentukan gaya dan teknik garapan yang sesuai dalam mementaskan naskah tersebut.
  5. Menetukan durasi waktu yang dibutuhkan dalam pementasan.
  6. Menentukan waktu yang digunakan dalam masa persiapan, latihan, hingga saat pementasan.
  7. Menentukan estimasi anggaran yang dibutuhkan, dan sebagainya.

Kedudukan dan Fungsi Naskah

Sekelompok orang yang akan membawakan sebuah naskah ke dalam bentuk pementasan, tentunya harus mengetahui segala sesuatu yang terdapat dalam naskah tersebut. Mereka harus paham bagaimana cerita yang akan dibawakannya; apa temanya, bagaimana alur ceritanya, bagaimana karakter tokoh-tokohnya, di mana setting ceritanya, property apa saja yang dibutuhkan, dan sebagainya. Setelah itu, barulah mereka mengikuti garis-garis yang telah ditetapkan oleh sutradara sebagai pengarah laku.

Dari ilustrasi tersebut, dapat diketahui bagaimana kedudukan naskah dalam suatu kegiatan pementasan. Naskah memiliki kedudukan sebagai sumber cerita yang harus ditafsirkan oleh para penafsir (kerabat pementasan) sebelum pementasan. Hasil penafsiran dari karya bentuk tertulis inilah yang nantinya diterjemahkan ke dalam penyajian secara lisan dan lakuan. Adapun fungsi naskah adalah untuk memberikan inspirasi kepada para penafsir agar mereka mampu menampilkan kreativitas kerja yang maksimal dalam proses pementasan.

Hubungan Naskah dengan Kerabat Pementasan

Sebagai sumber cerita yang akan diwujudkan dalam bentuk cerita panggung, naskah memiliki hubungan yang sangat erat dengan kerabat pementasan. Kerabat pementasan yang dimaksud di sini adalah sutradara, pemain, penata artistik, maupun produser atau panitia pementasan.

1.  Hubungan Naskah dengan Tim Produksi atau Panitia Pementasan

Sebuah naskah memiliki hubungan pula dengan tim produksi atau panitia pentas karena merekalah yang bertugas mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan keperluan pentas. Produser berperan sebagai penafsir yang memilih naskah-naskah mana yang dianggap baik untuk dipentaskan. Naskah-naskah tersebut kemudian diserahkan kepada sutradara. Di samping itu, untuk memperlancar jalannya kegiatan, produser bertugas pula mengurus segala fasilitas yang diperlukan, seperti tersedianya gedung pementasan yang memenuhi syarat, proses perizinan yang lancar, akomodasi yang diperlukan, bahkan bila memungkinkan menyediakan konsumsi bagi kerabat pementasan. Untuk dapat melaksanakan semua itu dengan baik, tentu saja diperlukan dana yang tidak sedikit. Karena itulah, produser harus pula kreatif dalam menggali sumber dana, baik dari kas kelompok, iuran sukarela, maupun mencari donatur dan sponsor. Dengan demikian, tugas produser di sini lebih bersifat administratif.

2.  Hubungan Naskah dengan Sutradara

Dalam kegiatan bedah naskah, sutradara dapat dikatakan sebagai penafsir utama yang kreatif. Namun demikian, kreatif yang dimaksud bukan berarti dapat seenaknya mengobrak-abrik naskah yang akan dipentaskan dengan selera sendiri. Kreativitas sutradara justru terletak pada kemampuannya dalam memadukan ide-ide cemerlang dengan ide-ide kerabat pementasan yang lain. Dengan pemahamannya yang lebih mengenai naskah, sutradara diharapkan mampu menerjemahkan segala sesuatu yang terdapat pada naskah kepada segenap kerabat pementasan, sehingga nantinya dapat menyajikan pementasan yang dapat melibatkan penoton dalam menikmati hasil garapannya
.

3.  Hubungan Naskah dengan Pemain

Hubungan naskah dengan pemain pada dasarnya hampir sama dengan hubungannya dengan sutradara. Hanya saja, kedudukan pemain masih tetap berada di bawah koordinasi sutradara dalam menafsirkan naskah. Tidaklah benar anggapan bahwa pemain hanya tinggal menurut apa kata sutradara saja. Pemain tetap mempunyai hak untuk menyampaikan hasil penafsirannya, apalagi pemainlah yang akan menjadi pewujud cerita naskah di atas pentas. Sebuah naskah dapat saja dipentaskan tanpa adanya penata rias, penata busana, penata lampu, penata panggung, penata musik, maupun penata artistik yang lain. Namun, akan sulit dipentaskan bila tidak ada pemain yang membawakan peranannya. Sebaliknya, pemain memerlukan naskah karena di dalam naskahlah terdapat segala sesuatu yang berhubungan dengan peran tokoh yang akan dibawakan pemain.

4.  Hubungan Naskah dengan Penata Artistik
Antara naskah dengan  penata artistik terdapat pula hubungan yang sangat erat. Penata atistik inilah yang akan menjadikan sebuah naskah yang dibawakan pemain menjadi terlihat lebih hidup. Penata artistik pun harus mendalami secara cermat naskah yang akan dipentaskan oleh kelompoknya. Dengan demikian mereka dapat menentukan bagaimana kostum para pemain yang sesuai dengan isi cerita, bagaimana make up yang dapat menunjukkan karakter tokoh, bagaimana musik dan sound effect-nya, bagaimana setting atau tata panggungnya, apa sajaproperty atau alat yang diperlukan pemain di dalam pentas, bagaimana lighting atau tata lampu yang sesuai dengan suasana, dan sebagainya.

Bedah naskah akan membuahkan hasil maksimal bila tidak hanya dilakukan pada awal kegiatan saja. Bedah naskah dapat pula dilakukan selama proses latihan berlangsung, sehingga ada kemungkinan munculnya ide-ide atau kreativitas baru yang menjadikan hasil pementasan lebih dapat dinikmati.  Pada dasarnya berlatih drama atau teater merupakan proses pencarian yang tiada henti, yang memungkinkan adanya penemuan-penemuan baru dari naskah yang dimainkan pada saat proses latihan. (Raden Kusdaryoko Tjokrosutiksno*)

Sumber : 

http://ruangimaji.wordpress.com/2011/06/14/bedah-naskah-dalam-aktivitas-teater/

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Etiam aliquam massa quis mauris sollicitudin commodo venenatis ligula commodo.

Related Posts

3 komentar:

  1. Terima kasih telah ikut menyebarkan info ini, semoga bermanfaat.
    Wah, jadi kangen Solo nih...

    BalasHapus